Supri, Juragan Tembaga dari Lereng Merapi

Bermodalkan satu dandang, Supri mengembangkan usaha kerajinan tembaga beromzet Rp 1 miliar per bulan. Apa rahasianya?

Bunyi pukulan martil bertalu-talu ditingkah denging gerinda yang memekakkan telinga. Suaranya bersahut-sahutan dari rumah ke rumah, meramaikan suasana pagi hari di Desa Tumang, pusat perajin tembaga yang terletak di Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah.

Memang, ada ratusan perajin tembaga yang menggerakkan roda perekonomian Tumang. Mereka mengubah lempengan tembaga dan kuningan berukuran 1 x 2 meter menjadi tempat tisu, papan nama, vas bunga, guci, lampu gantung (robyong), sampai kaligrafi. Desa yang terletak 35 kilometer arah barat Solo ini sudah menjadi pusat pengolahan tembaga sejak zaman Mataram.

Sampai era 1970-an, penduduk Tumang masih membuat dandang (tempat menanak nasi), tempayan, dan berbagai alat kebutuhan rumah tangga yang lain. Namun, mereka tak sanggup melawan perubahan zaman. Ketika aluminium datang, tembaga seperti barang kuno yang tak bernilai. Dandang, panci, ketel tembaga tak laku lagi dijual dan diganti aluminium yang lebih mentereng. Perajin Tumang bertumbangan. Jumlah pandai atau perajin tembaga susut menjadi hanya puluhan orang. Anak-anak muda meninggalkan Tumang untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Pemerintah Daerah Boyolali sebetulnya sudah memperkenalkan pembuatan suvenir sebagai alternatif. Tapi, mereka tak tahu ke mana harus menjualnya.

Adalah Supri Haryanto yang mampu mengubahnya. Pada awal 1980-an, Sapto Hudoyo, seniman perupa dari Yogyakarta, datang ke bengkel Supri. Dia memesan berbagai barang dengan desain yang berbeda-beda. Tak lama kemudian, Sapto mengajak Supri ke galerinya di Yogya untuk mempelajari desain sekaligus bekerja dengan gaji Rp 30 ribu sebulan—yang hanya cukup untuk makan dan beli rokok. Di rumah Sapto, pelukis yang terkenal dan sukses itu, Supri belajar apa saja. Pernah Sapto memintanya membuat kerajinan kulit kacang, dengan syarat biji kacangnya harus kelihatan. “Saya sampai menangis karena hampir tak bisa mengerjakan permintaan itu,” Supri mengenang. Tapi Sapto terus memompa semangatnya. “Ayo, ini akan jadi suvenir termahal,” katanya, menirukan Sapto.

Kendati hidupnya sulit di Yogyakarta, Supri bertahan. “Saya mesti nekat. Anak saya sudah tiga dan saya tak mungkin hidup hanya dari dandang,” katanya. Selama setahun Supri belajar di rumah Sapto dan kembali ke Tumang pada 1983. Dengan bekal dan semangat baru, Supri lalu mengembangkan usahanya. Pada mulanya tak mudah. Lagi-lagi dia menghadapi kesulitan memasarkan produknya. Tapi bukan Supri jika tidak nekat. “Saya titip barang saya di hotel-hotel tanpa uang muka,” ujarnya terus terang. Dia juga sering ikut dalam pameran Sapto Hudoyo. Sejak itulah jaringan dan usahanya terus berkembang.

Sejumlah proyek besar dapat disabet Supri pada dekade 1980, di antaranya pembuatan robyong berukuran 1,5 meter di Keraton Solo, di samping membuat berbagai hiasan di Taman Budaya Jawa Tengah dan mengisi rumah pengusaha Sudwikatmono. Nilai proyek di rumah Sudwikatmono kabarnya sampai Rp 300 juta. Kini, Supri tengah menyelesaikan pembuatan dua kubah masjid di Sabang (Aceh) dan Palembang senilai 450 juta. Bengkel Supri, Muda Tama, juga mengekspor separuh produknya ke berbagai negara, di antaranya Amerika Serikat. Jangan kaget kalau omzetnya kini mencapai Rp 1 miliar per bulan. “Modal saya dulu cuma sebuah dandang pemberian ayah saya. Setelah saya jual, uangnya buat modal membeli bahan,” katanya.

Keberanian Supri mengilhami para tetangganya. Mereka juga membuat suvenir. Desainnya meniru Supri. “Saya terbuka saja. Siapa saja boleh datang ke bengkel untuk melihat desain-desain baru,” kata laki-laki yang SD pun tak tamat ini. Sekarang jangan heran bila melihat wujud Tumang yang kembali menjadi desa tembaga, seperti di zaman Mataram dulu. Para perajin yang sebelumnya banting setir jadi petani kini kembali mengayun martil. Desa berhawa sejuk di lereng Merapi itu sekarang dikenal sebagai pusat kerajinan tembaga yang terbesar di Indonesia. Setiap bulan, perputaran uang di Tumang mencapai Rp 3 miliar.

Menurut perupa Solo, Hajar Satoto, salah satu kunci keberhasilan Supri adalah keberanian dan kenekatannya. Supri sering menerima order yang sulit-sulit. “Terima dulu ordernya, urusan pembuatan belakangan,” kata Hajar menirukan prinsip Supri. Sikap itulah yang belum bisa ditularkannya ke perajin lain. Mereka sering menolak pesanan yang menghendaki desain baru dan sulit. Wajar bila Supri unggul di antara sesama perajin tembaga, yang juga tetangganya. Hajar cuma menyayangkan kebiasaan Supri, yang belum bisa meninggalkan manajemen keluarga. “Semua ditanganinya,” kata Hajar. Akibatnya, ketika order menumpuk, produksi sering tak berjalan lancar.

M. Taufiqurohman, Imron Rosyid (Boyolali)

This entry was posted in tempo and tagged , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>