Berbagi ‘Rezeki’ Orang Mati

Polisi Solo mengungkap kasus kejahatan asuransi yang membobol PT Jasa Raharja. Modusnya, klaim fiktif.

SUATU siang di bulan September 2002. Rukin Edi Santosa, 49 tahun, seorang petugas di Kantor Samsat (Sistem Manunggal Satu Atap) Karanganyar, Jawa Tengah, sedang duduk tenang di meja kerjanya. Tiba-tiba datang seorang tentara dari Komando Distrik Militer Karanganyar. Dengan muka kesal, si prajurit memperlihatkan selembar surat berisi sebaris kalimat, “Ikut berbelasungkawa. Terima kasih atas kepatuhan membayar asuransi ke Jasa Raharja.”

Surat itu biasa diberikan kepada seorang ahli waris korban kecelakaan lalu-lintas. Tapi si prajurit ternyata bukan ahli waris dari seseorang yang jadi korban kecelakaan. Pengaduan ini membuat Rukin kelabakan. “Saya lalu menyarankan agar dia ke Kantor Perwakilan Jasa Raharja di Solo saja untuk klarifikasi,” ujarnya. Rukin memang petugas PT Jasa Raharja yang ditempatkan di Samsat. Selain PT Jasa Raharja, Samsat juga mengatapi Dinas Pendapatan Pajak Daerah dan kepolisian.

Kedatangan si prajurit ternyata menjadi malapetaka bagi Rukin. Belakangan, kasus pemalsuan klaim asuransi terbongkar dan diduga melibatkan petugas Jasa Raharja ini. Dua pekan lalu sejumlah saksi, termasuk Rukin, telah dipanggil oleh Kepolisian Wilayah Surakarta.

Mengikuti saran Rukin, anggota TNI itu rupanya benar-benar mendatangi Jasa Raharja Cabang Solo, yang kemudian menerjunkan tim Satuan Pemeriksa Intern (SPI). Tim yang dipimpin oleh Herman Hidayat ini lalu memeriksa semua berkas klaim asuransi yang pernah diajukan melalui cabang mereka di Karanganyar. Benar saja. Setelah menyelidiki, tim tersebut ternyata menemukan 43 klaim fiktif, termasuk klaim yang mengatasnamakan si prajurit itu.

Fiktif? Meski terlihat lengkap karena disertai laporan polisi, surat kematian, sketsa tempat kecelakaan, dan berbagai dokumen lainnya, surat klaim itu ternyata cuma rekayasa. Semua korban yang minta santunan ternyata bukan meninggal akibat kecelakaan lalu-lintas, melainkan karena sebab lain. “Ada yang mati kesetrum, sakit, dan sebagainya,” kata Komisaris Polisi Agus Santosa, Kepala Bagian Serse Polwil Surakarta, yang menangani kasus ini. Padahal, seharusnya santunan hanya bisa dibayarkan oleh Jasa Raharja kepada korban kecelakaan lalu-lintas.

Selain Rukin, polisi juga memeriksa Brigadir Polisi Darsito, 39 tahun, seorang anggota polisi lalu-lintas Polres Karanganyar. Suwarno, 37 tahun, seorang calo asuransi, dan Mulyadi, 57 tahun, bekas sopir bus, juga diperiksa. Terungkap, mereka memiliki peranan masing-masing.

Mulyadi bertugas mencari korban, orang yang akan diberi asuransi, yang baru saja meninggal dunia. “Yang penting masih berusia muda dan kepala desanya mau memberikan surat-surat yang dibutuhkan,” kata Mulyadi. Ia juga menyiapkan persyaratan mulai dari kartu keluarga, KTP, surat nikah, sampai surat kematian yang masih kosong tetapi ada tanda tangan dan stempel kepala desa.

Seluruh dokumen itu diberikan ke Suwarno, yang kemudian menyerahkannya kepada Darsito. Selaku penyidik kecelakaan lalu-lintas, Darsito bertugas melengkapi berkas-berkas, mulai dari laporan polisi tentang adanya kecelakaan sampai pembuatan sketsa tempat kejadian. “Setelah itu saya bawa ke Rukin untuk mendapat blangko pengajuan klaim dan surat pengantar ke Jasa Raharja,” kata Suwarno. Setelah klaim disetujui dan santunan keluar, komplotan pun bagi-bagi hasil. Menurut polisi, paling tidak dari Maret sampai September 2002 mereka berhasil membuat 43 laporan klaim palsu. Nilainya sekitar Rp 430 juta.

Darsito kini dibebastugaskan dari pekerjaannya. “Bukan tidak mungkin dia dipecat kalau nanti terbukti bersalah,” kata Kepala Polisi Surakarta, Komisaris Besar Hasyim Irianto. Sementara itu, Suwarno dan Mulyadi masuk bui polisi. Kawanan itu bakal dijerat Pasal 263 KUHAP tentang pemalsuan dokumen, dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara.

Rukin pun kena getahnya. Oleh kantornya, ia dipensiunkan dini. Ia dianggap telah berbuat lalai meloloskan berkas klaim asuransi yang ternyata fiktif. “Sebagai ajun surveyor, mestinya dia melakukan cross check ke lapangan sehingga kami tak kebobolan,” ujar Nano B. Tjahyono, Kepala Perwakilan Jasa Raharja Cabang Solo.

Dan seperti juga Suwarno dan Mulyadi, bukan tidak mungkin Rukin akan menginap di tahanan jika dinilai terlibat.

Wicaksono, Imron Rosyid (Solo)

This entry was posted in tempo and tagged , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>