Belajar Gagal dari Steak Obonk

Butuh berapa kali gagal usaha untuk bertemu dengan sebuah keberhasilan? Butuh berkali-kali. Itulah yang dialami Soegondo.

Lelaki 57 tahun itu dijuluki Raja Steak. Ia memanen sukses–punya 80 gerai warung steak di berbagai kota–setelah bangkrut di bisnis diskotek dan merugi di dua usaha kafe di Yogyakarta dan Solo.

Soegondo adalah pelopor di bisnis warung steak. Dialah salah satu pengusaha yang menyulap makanan kelas hotel berbintang lima itu menjadi makanan rakyat. Bergaya resto, tapi harganya semurah di warung kaki lima, seperti moto usahanya: rasa bintang lima, harga kaki lima. Selembar duit Rp 10 ribu cukup untuk menikmati hidangan ala orang Barat ini.

Soegondo sukses berbisnis steak dengan bendera Obonk. Anak-anaknya mengikuti jejak sang ayah dengan mendirikan Waroeng Steak ‘n Shake, Kampoeng Steak, serta Spiring Steak.

Tak kurang dari 80 gerai steak milik keluarga ini muncul di seluruh Indonesia. “Kalau Steak Obonk ada 39 lokasi,” kata Soegondo kepada Tempo di Solo, Kamis lalu.

Ia menerangkan setiap gerai paling kecil beromzet Rp 50 juta per bulan. Dengan 80 gerai, artinya Soegondo bersama empat anaknya mengelola uang sekitar Rp 4 miliar tiap bulan. Tak mengherankan kalau di halaman rumahnya yang bertingkat dua di Jalan Sumatera, Solo, di samping Hotel Sahid Raya, berjubel mobil mewah.

Sedan Mercedes C-240 keluaran 2006 diparkir anggun di sebelah Audi A3. Motor gede Harley-Davidsons tetap terlihat garang di sela mobil-mobilnya.

Kesuksesan Soegondo tak datang begitu saja. Sebelumnya, jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara ini malang melintang di berbagai jenis usaha. Pernah menjadi pegawai bank, tapi kemudian banting setir dengan mendirikan perusahaan jasa konstruksi, PT Trindo Bahana Sarana, di Jakarta.

Tak betah di Ibu Kota ia hijrah mengikuti istrinya, Ninik Mulyani, yang asli Solo, ke Kota Batik itu. Ia lantas membuka bisnis hiburan malam dengan menguasai tiga diskotek di Kota Solo pada medio 1980.

Krisis ekonomi menghantam, usaha Soegondo pun bangkrut. Tak lama kemudian ia membuka restoran kelas menengah di Yogyakarta dengan nama Kafe Solo. “Maunya membidik turis asing,” ujarnya. Tapi peruntungan belum juga datang.

Soegondo tak menyerah. Ia mendirikan restoran steak Casper di Pusat Jajanan Sriwedari, Solo, yang membidik kelas menengah ke atas. Seporsi steak paling murah Rp 75 ribu. “Hanya bertahan tiga tahun.”

Belajar dari kegagalan tersebut, ia mengubah konsep dalam berdagang. Ia berupaya mengenalkan bahwa steak bukanlah makanan mahal yang hanya bisa dinikmati orang berkantong tebal. Mulailah Soegondo membidik kalangan menengah ke bawah. Resep masakan pun dimodifikasi agar bisa menekan biaya produksi.

Ia mengawali bisnis dengan membuka warung steak di emperan butik milik istrinya di depan kantor Samsat Yogyakarta pada 1996. Ia terpaksa “parkir” di sana karena tak memiliki modal untuk menyewa tempat yang lebih strategis. “Modal awal hanya Rp 15 juta, itu pun patungan dengan beberapa kolega,” ujarnya.

Meski berbahan daging impor, steak Obonk lebih murah dibanding sajian hotel karena banyak biaya yang ditekan. Harga seporsi steak hanya separuh harga steak di restonya yang dulu, Casper. Soal rasa, menurut dia, relatif, yang penting pelayanannya membuat senang tamu. “Prinsipnya, kalau bisa murah saja sudah dapat untung, buat apa harus dijual mahal,” katanya.

Anak sulungnya, Jody, yang kala itu masih kuliah di jurusan arsitektur di Yogya, mengusulkan nama Obonk untuk warung steak baru itu. Dibuatlah logo berupa tulisan “Obonk” yang dikelilingi jilatan api, yang menegaskan arti dalam bahasa Jawa, yaitu terbakar.

Untuk memperkenalkan Obonk, Soegondo menyebar pamlet–cara beriklan yang pada 1996 masih terbilang baru. Tak dinyana Obonk kebanjiran pembeli. Bersama adiknya, setahun kemudian Soegondo membuka cabang di Solo dan disusul di Semarang. Sekarang sudah terkumpul 39 gerai, yang sebagian besar justru di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, yakni 20 gerai. Di luar Jawa ada di Medan, Batam, Makassar, dan Bali.

Soegondo selalu melibatkan orang lain ketika membuka cabang. Entah saudara entah relasi. Ia mengajak berbagi modal dan keuntungan. Cara ini dipandang bisa meringankan beban modal. Di sisi lain, memperkecil risiko ketika cabang baru gagal berkembang. Selain itu, “Rezeki orang berbeda. Ketika rezeki saya seret, siapa tahu rezeki partner sedang lancar,” katanya.

Maka ia menolak bila ada orang yang ingin memodali 100 persen pembukaan cabang. Soegondo selalu menyarankan agar uang ditanam juga di cabang lain. Bahkan ia memilih menolak jika ada orang kaya yang akan berinvestasi. Lebih baik kesempatan berinvestasi diberikan kepada orang yang ekonominya menengah.

Namun, Soegondo mengakui bahwa tak semua cabang Obonk laris manis. Ada juga yang hasilnya pas-pasan. Ukuran cabang tak laris adalah apabila hanya mampu menyetor keuntungan Rp 5 juta per bulan. Kalau memberikan laba Rp 10 juta tergolong menengah. Nah, cabang yang bagus bisa setor keuntungan di atas Rp 20 juta per bulan.

Ia tak berkecil hati melihat cabang-cabang yang kecil keuntungannya. “Dengan keuntungan yang hanya 1 persen, masih lebih tinggi daripada bunga bank,” ujarnya.

Agar Pembeli Tak Minder

Soegondo tak menepuk dada. Menurut dia, Obonk belum menerapkan sistem waralaba seperti yang umumnya terjadi. Ia lebih suka waralabanya dimaknai sebagai kemitraan atau kerja sama karena Obonk bukan sekadar merek dagang, meski nama itu sudah dipatenkan atas namanya.

Pemikiran itulah yang melatarbelakangi alasan Soegondo pernah menolak orang kaya yang ingin memasok fulus untuk menutupi kebutuhan modal pembukaan cabang baru. “Kalau mau beli resep steak Obonk boleh saja, tapi kalau mau menggunakan bendera Obonk harus mengikuti konsep saya,” ujarnya.

Dalam konsep kerja sama, ia menerangkan, Obonk-lah yang menentukan pekerja. Partner juga harus setuju Obonk buka pada pukul 13.00 WIB pada Jumat dan hanya buka malam ketika bulan puasa. Penanam modal juga harus terbuka dan percaya.

Untuk membuka sebuah cabang, misalnya, paling tidak diperlukan modal sedikitnya Rp 300 juta. Sebagian besar dari dana itu untuk sewa tempat. “Kalau tak ada tempat yang strategis, mudah dilihat orang lewat, baik naik motor maupun mobil, jangan memaksa.”

Menurut Soegondo, tempat yang strategis adalah yang tak terkesan mewah agar pembeli berkantong pas-pasan tak minder masuk ke restorannya. Obonk tak mengambil untung terlalu besar tiap porsi supaya harga tak melambung. Ia mengaku hanya mengambil laba Rp 2.000 setiap porsi. Itu antara lain kiat sukses Soegondo.

Ia tak lupa menyarankan setiap orang yang ingin bekerja sama agar tak memasukkan seluruh uangnya hanya ke satu cabang. Ia mengatakan, bila seseorang mempunyai dana Rp 100 juta, lebih baik digunakan berinvestasi di dua cabang. “Jangan menaruh telur di satu keranjang.” Maksudnya, bila satu cabang kurang maju, partner akan mendapatkan keuntungan dari cabang lain. IMRON ROSYID

This entry was posted in tempo. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

6 Comments

  1. Yenda
    Posted 27/05/2010 at 13:54 | Permalink

    Bagaimana caranya kalu mau buka outlet Obonk ???

  2. Yenda
    Posted 27/05/2010 at 13:54 | Permalink

    Saya ingin membuka outlet Obonk di Pekanbaru. Bagaimana caranya. Terima kasih,

    Yenda.
    081266170308

  3. wahyu
    Posted 12/12/2012 at 11:09 | Permalink

    salut dng pak sugondo semangat maju terus, angkat pengusaha” ekonomi lemah.

  4. Posted 18/06/2013 at 08:49 | Permalink

    Sangat inpiratif : )

  5. andik
    Posted 22/10/2013 at 22:20 | Permalink

    Saya ingin bekerja sama, d mana saya bisa menghubungi anda? Tolong kirim info lewat email saya

  6. bekti
    Posted 19/08/2015 at 14:15 | Permalink

    Saya ingin kerja sama dengan steak obonk,bagaimana caranya?soalnya di daerah saya belum ada.tolong balas lewat email saya. Trimakasih sebelumnya

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Statistical data collected by Statpress SEOlution (blogcraft).