Tak Mudah Lho Ngurus BPKB Itu (bagian-1)

Suatu siang, di bulan Juli 2012 dengan penuh percaya diri saya mendatangi loket cek fisik Samsat Solo. Loket itu berada persis di depan pintu masuk kompleks. Dari lubang loket terlihat tidak kurang dari lima petugas yang semuanya adalah polisi, termasuk polisi wanita. Kepada salah satu polisi yang sudah agak berumur yang di atas pucuk hidungnya kacamata ku sampaikan maksudnya kedatangan saya.

“Sticker cek fisik pak, dua buah,” kata ku. Hari itu saya bermaksud mengurus sendiri pajak kendaraan roda dua baru mulai dari penerbitan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB) maupun surat tanda nomor kendaraan (STNK). Saya tak punya pengalaman mengurus BPKB baru karena dua kali membeli motor baru, BPKB selalu diurus oleh dealer. Maklum kredit. Pengalaman saya berkaitan dengan pajak motor adalah perpanjangan STNK dan mencari duplikat STNK karena hilang.

Kata-kata itu kuulangi dua kali. Polisi itu memandangi saya. Seperti tak paham maksud saya. Mungkin karena saya tak menyodorkan fotocopi STNK sebagaimana yang lain tetapi fotocopi faktur kendaraan baru, satu-satunya dokumen yang saya bawa selain KTP. “Mau apa,” katanya sambil membenarkan letak kacamatanya. Kusampaikan maksudku bahwa saya hendak mengurus penerbitan BPKB baru sepeda motor. Dia bertanya lagi, sudah ke Satlantas dan kujawab sudah.

“Mana kertas kuningnya,” kata dia. Saya bingung, giliran saya yang tak paham maksud saya. Sehari sebelum ke Samsat saya memang sudah ke Satlantas Polreta Solo. Di sana saya hanya mencari informasi cara mengurus BPKB baru. Di salah satu dinding, ada informasi berupa bagan mekanisme pengurusan yang menyebutkan pengurusan BKBP baru adalah dengan menyertakan cek fisik kendaraan. Cek fisik itu didapat di Samsat.

“Kertas apa ya pak,” kataku bingung. Polisi itu tak menjawab, dia malah ganti bertanya mengapa mengurus sendiri BPKB baru tidak diurus oleh dealer. Saya jawab seadanya karena saya ingin tahu dan punya pengalaman.

“Hadiah ya,” kata dia menebak dan ku mengangguk jujur.

“Hadiah apa,” tanya lagi. Lagi-lagi ku jawab dengan apa adanya kalau motor yang hendak kuurus BPKB adalah hadiah undian di bank. Petugas itu tak segera menerangkan apa yang dimaksud kertas kuning yang dia tanyakan sebelumnya. Dia malah memberi komentar seolah tak ada yang lebih penting untuk disampaikan. “Wah uangnya banyak,” kata dia. Saya tak menjawab. Dia meneruskan lagi ucapannya yang tak ku ingat secara persis lagi.

“Ke Lantas dulu. Minta kertas kuning, fakturnya dibawa nanti dapat nomor baru cek fisik,” demikian dia menjelaskan prosedur awal pengurusan BPKB baru. Saya masih berusaha ngeyel agar saya boleh mendapatkan sticker terlebih dahulu agar bisa esek-esek nomor rangka dan nomor mesin kendaraan. Tapi petugas itu tak bersedia dengan alasan tidak diperbolehkan. Saya pun buru-buru ke Satlantas yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Samsat.

Minim Informasi
Seperti kemarin, Satlantas yang terletak di Gendingan, bekas Mapolwil Surakarta sepi. Hanya bagian pengurusan SIM yang banyak orang. Tak kulihat satu pun jendela loket yang terbuka. Semua pintu bertuliskan “selain petugas dilarang masuk”. Saya pun mondar-mandir untuk mencari tahu ke mana mencari “kertas kuning” seperti yang dikatakan petugas di Samsat. Ketika hendak beranjak ke bagian SIM yang kulihat ada petugas berseragam, dari salah satu pintu di bagian BPKB ada petugas yang keluar.

“Pak kalau mau ngurus BPKB baru, di mana pak,” tanya ku.

“Masuk saja ke situ,” jawabnya sembari menunjuk salah satu pintu.

Kuketuk pintu itu tapi tak ada jawaban. Ku dorong daun pintu yang membawaku ke ruangan yang hanya ada satu meja panjang dengan kursi yang ada di dua sisinya. Di sisi dalam terdapat seorang petugas menghadapi dua orang yang sepertinya juga mengurus BPKB baru. Namun ketiga orang itu terlihat akrab. Bahkan salah satunya mengambil stempel lantas mengecap beberapa lembar kertas sebelum disorongkan ke petugas tersebut.

Tak ada sambutan meski sekadar pertanyaan ada urusan apa kok orang yang bukan petugas masuk ke dalam ruang kerjanya. Ku pandangi seantero ruangan yang ukurannya tak lebih dari 4 x 5 meter itu. Di dinding yang ada jendela, terdapat beberapa papan berpigura kaca yang bertuliskan visi misi pelayanan BPKB. Kemudian juga ada informasi tarif penerbitan BPKB baru. “BPKB Baru Roda Dua Rp 80.000. BPKB Baru Roda Empat Rp 100 ribu” Hanya itu yang kuingat.

Sekitar lima menit, setelah dua orang yang sudah ada sebelum saya masuk selesai urusannya, baru petugas itu menanyakan tujuanku. “Hendak mengurus BPKB baru pak,” kataku.

“Dealer?,” tanyanya.

“Bukan pak,” jawabku cepat.

“Kok ngurus sendiri,” tanya dia lagi.

Saya tak langsung menjawab. Pertanyaannya kok sama ya saat di Samsat. Malas sebenarnya menjawab pertanyaan yang tidak jelas apa tujuannya. Ku jawab sekenanya, “apa tidak boleh pak,”

“Ya boleh. Tidak biasa ada orang ngurus sendiri. Hadiah? Sudah tahu syaratnya,” kata dia.

“Iya pak,” ujarku. Dia pun lantas membuka laci setelah meminta faktur. Selembar kertas kuning polos diambil dari laci meja. Dia membuat coretan dua baris pendek sekali. Satu adalah huruf yang tak bisa aku baca dan satunya lagi angka. Tulisan tangan seperti resep dokter itu ternyata berbunyi faktur difotocopi 1. Sedangkan yang angka tertulis 640.

“Bawa satu lembar fotocopi faktur, biayanya Rp 640 ribu,” kata dia sembari menyorongkan kertas mungil itu.

Aku beringsut dari kursi karena uang yang ada di dompet ku hanya 4 lembar bergambar pahlawan asal Bali. Jelas kurang banyak dari angka yang disebut. Saya pun ke luar dari ruangan sembari mengantongi kertas kuning yang berisikan angka dan coretan dari pak polisi tadi.

Sembari ke luar saya kembali melihat papan berpigura kaca di dekat jendela kaca. Niat untuk menanyakan sesuatu urung ku lakukan karena si petugas itu sudah beralih ke pekerjaannya lagi. Dalam hati aku bertanya-tanya inikah kertas kuning yang dimaksud petuga samsat? Kok hanya seperti ini? Jelas bukan karena kalau kertas dengan coretan seperti ini tak perlu lah si petugas Samsat menyuruhku ke Satlantas.

Besok saja lah, kalau duit sudah ada pasti akan tahu kertas kuning macam apa yang harus dibawa untuk cek fisik. (bersambung)

This entry was posted in pengalaman and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

14 Comments

  1. brojol74
    Posted 28/12/2012 at 14:43 | Permalink

    Ruarbiasa kerjasama samsat+satlantas…, trus kira2 lanjutan om?

  2. Indra Lesmana
    Posted 09/01/2013 at 14:20 | Permalink

    Cocok Sebagai Penulis nih…Nyaman Baca nya… Jika Pengurusan BPKB Hilang Lebih Repot Lagi Lohh

  3. Posted 26/02/2013 at 17:06 | Permalink

    sialan benar polisi tu visi dan misi ga dijalani taunya meras org kecil , ga puas ama gajinya kali

    • dian
      Posted 30/04/2013 at 19:19 | Permalink

      Dasar polisi itu rampok uang rakyat..kmrin saya ngurus SIM,ada kena biaya mutasi 30ribu. Kalaupun biaya itu resmi BUKAN palakan,harusnya disertai kuitansi yg jelas..Saya tantang minta kuintasi malah ngeyel bilang ga ada..kesel yg ada

    • gino
      Posted 18/10/2013 at 18:25 | Permalink

      TIDAK ADA manusia yang puas dengan gajinya.
      sunatullah sudah menegaskan itu “meski dikasi dua lembah akan minta tiga”.
      apalagi aparat, indonesie lagi, wah… sudahlah…
      kalo sudah niat kuat ati… jalani aja pnawaran prosedurnya…
      bgitulah klo memilih pemimpin yang tidak amanah

  4. dancuk
    Posted 02/05/2013 at 16:54 | Permalink

    polisi memang asuu

  5. Posted 12/05/2013 at 22:19 | Permalink

    pasti petugasnya perut buncit tuch….?

    lanjut ceritanya om,. saya juga alhamdulillah dapet hadiah motor, tapi belum tau proses pengambilan gmn?

  6. Posted 24/06/2013 at 18:31 | Permalink

    Aku juga sedang akan mengurus bpkb yang disenangi maling, tulisan anda mirip cerpen, dah ada sambungannya/belum.

  7. josua
    Posted 11/08/2013 at 23:45 | Permalink

    gmn mw kluar dri kmiskinan negeri ini..
    org yg kaya mkin kaya…

  8. Posted 31/10/2013 at 11:17 | Permalink

    oknum polisi om yang gak bener…bukan poilisinya

  9. yoyo
    Posted 13/11/2014 at 10:37 | Permalink

    harusnya aparat yang berlabel melayani masyarakat itu bisa bersikap benar2 melayani masyarakat,hal kecilnya dengan menerangkan baik2 dan jelas semuanya apa saja prosedur yg benar mendapatkan BPKB nya walaupun motor itu tidak diurus dealer ato hadiah. memangnya kalau tidak diurus dealer itu hal yang melanggar aturan ya kan jelas TIDAK. harusnya malu aparat yang berlabel melayani itu malah bersikap menyulitkan orang awam. ingat dengan tanggung jawabmu yang sebenarnya

  10. aan
    Posted 24/12/2014 at 15:13 | Permalink

    Memang betul, saya juga baru saja tadi ngurus bpkb dan stnk baru motor hadiah. Dipalak sama petugas mulai dari cek fisik diminta 40rb. Padahal harusnya gratis, nah pas di dompet cuma ada 20rb jd saya bilang gada uang pak di dompet kurang. Jadi saya ga bayar hehe

  11. aan
    Posted 24/12/2014 at 15:16 | Permalink

    Oia sampe anya kerja dmn, suruh masuk keruangan loket. Saya tau pasti mau dimintain uang. Jadi saya jawab aja udah ga kerja pak haha biar ga dipalak

  12. endra
    Posted 05/08/2015 at 22:35 | Permalink

    [SHARE]
    ada juga sebuah kota, sebut saja kota A, dimana mengurus STNK&BPKB baru secara mandiri “tidak diperbolehkan”, secara halus nanti kalau kesana PASTI DIPERSULIT.
    Yang lambat dilayani lah, menunggu panggilan lumayan lama lah, yang di-pingpong sana sini lah dan lain-lain lah.
    Memang waktu bertanya di bagian informasi, petugas yang menjelaskan sangat ramah dan informatif. Namun ketika di bagian-bagian tahap prosedural, seperti yang dialami penulis artikel di atas, pasti stuck pada hal-hal tersebut.

    Kalaupun dalih/alasannya bahwa “harus lewat perantara/biro jasa”, supaya membuka lowongan pekerjaan, saya rasa itu sudah keterlaluan sekali. Bisa-bisa orang jualan bakso/minuman di depan kantor S*ms*t juga bisa jadi calo.
    Lewat calo udah pada koar-koar tidak diperbolehkan.
    Tidak lewat calo, malah dipersulit.
    Nah lo….

    Saya sendiri juga heran. Itu uang-uang saya sendiri, uang halal pastinya. Hasil kerja keras beberapa tahun mengencangkan ikat pinggang supaya dapat menikmati hasil jerih payah. Supaya mudik bisa bangga kepada orang-orang di kampung, meski cuma roda dua. Dan nantinya kendaraan/motor tersebut saya gunakan pribadi. Kok ya dipersulit.

    Sekarang pun tampaknya, beli off the road atau on the road jatuhnya tetep sama.
    Mungkin penjual sudah semakin “terjalin kerjasama dengan baik” dengan pihak-pihak lainnya.

One Trackback

  1. […] Suatu hari, 3 orang mahasiswa yang selesai dari kegiatan ospek berencana pulang kos. “Eh, gimana …uh dari Pos Polisi perempatan kampus yang mereka lewati, kendaraan mereka dihentikan oleh Pak Polisi. […]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Statistical data collected by Statpress SEOlution (blogcraft).