Satrio

Dhe Nawir mesam-mesem melihat tiga anak muda yang duduk di klasa yang di-jereng di samping grobak HIK-nya. Sudah hampir sejam, ketiganya tak memesan apapun kecuali teh tawar.  Selepas isya, ketiga bujangan tanggung, itu langsung asyik dengan pembicaraan serius. Terkadang bisik-bisik seperti ngomong rahasia.

“Apa ora kembung kok ming teh tawar,” kata Dhe Nawir mendekati mereka. Kebiasaan penjual wedangan ini jika tak ada yang jajan, memilih ikut ngobrol sama pembeli yang sudah menjadi langganan. Katanya selain biar akrab juga mau up date pengetahuan yang banyak dibawa para pelanggannya secara tidak sengaja.

“Aja ngece kang. Sampean itu ra’ jualan wedangan, ya aku tukune wedang. Kalau mau makan ya ke restoran apa ke rumah makan, nggak ke sini,”  sahut Dino nggojeki Dhe Nawir.

Mengko tak borong jajananne sak gerobakmu, kang. Iki nembe serius. Soal masa depan bangsa je kang,” tambah Rio dengan nada yang kemaki.

“Rupamu le…Ngomong saja kalau nggak punya duit. Ra kuat jajan. Sangu kuwaci dewe ya,” kata Dhe Nawir jengkel. Dia ikut duduk lesehan.

“Kang, sampean ngerti yang pasang spanduk itu,” kata Bagas. Tangannya menunjuk spanduk kain warna putih dengan tulisan merah berbunyi “Kami Bangga dan Salut Pada Jiwa Kesatria Prajurit Kopassus. Kopassus Ksatria Sejati”

“Apa Mas Bagas sudah jadi reserse kok menyelidik. Memangnya nggak boleh orang buat dan pasang spanduk. Duit-duitnya sendiri kok. Kalau dilarang ya Satpol PP biar yang nyopot,” kata Dhe Nawir sekenanya.

“Bukan itu masalahnya kang. Coba sampean simak kata-katanya. Katanya Kang Brengsos itu penjual wedangan yang intelek. Sampean paham nggak, kok sampai ada spanduk seperti itu,” ujar Rio.

Dhe Nawir, walau waktunya dihabiskan di tepi jalan bersama gerobaknya memang tak pernah ketinggalan dengan informasi. Kalau tidak dari hasil nguping pembicaraan pelanggannya, dia sering ngintip berita-berita di internet. Koran pun dia baca meski sering berhenti pada lead berita. Hanya TV yang jarang sekali disaksikan karena memang tak memiliki.

“Itu jelas propaganda. Sampean ora usah ngetes saya,” kata Dhe Nawir nada tinggi.

Tak ada asap jika tak ada api. Spanduk itu bermunculan sejak Tim Investigasi TNI AD mengumumkan pengakuan 11 anggota Kopassus dalam penyerangan Lapas Cebongan. Hasil tim ini berbeda dengan pernyataan Pangdam Diponegoro Mayjen Hardiono Sarosa yang sebelumnya membantah ada prajurit TNI menyerang dan membunuh tahanan polisi.

“Propaganda kang? Jadi sampean gak percaya Kopassus itu kesatria sejati seperti di tulisan itu?,” sahut Dino.

“Percaya kok spanduk. Memangnya spanduk itu kitab suci. Kalau saja spanduk itu tidak dipasang ketika ramai-ramai kasus Cebongan, mungkin saja pikiran saya lain. Misalnya karena mangayubagyo Kopassus yang berulang tahun 16 April besok. Tapi  kan spanduk itu konteksnya bukan HUT Kopasssus melainkan karena ada kassus yang edang ramai to,” kata Dhe Nawir.

“Artinya, sampean tetap gak percaya Kopassus itu kesatria?” kata Rio yang tak puas dengan jawaban Dhe Nawir karena dianggap diplomatis.

“Sikap kesatria itu ada pribadi atau pada korps atau kesatuan menurut sampean coba. Kalau menurutku kesatria itu jiwa yang tertanam di setiap individu. Korps, himpunan, kelompok, komunitas atau bahkan keluarga bersifat untuk membantu, menjaga dan menumbuhkannya,” kata Dhe Nawir lagi.

Seperti sebuah tes wawancara saat lamaran kerja, Dhe Nawir dikeroyok tiga pewawancara. Giliran Bagas yang bertanya. “Oke kang, anggap saja maksud si pembuat spanduk itu sebenarnya mau nulis Kami Bangga dan Salut Pada Jiwa Kesatria 11 Prajurit Kopassus. 11 Anggota Kopassus Ksatria Sejati, tapi kepanjangan terus ditulis begitu, piye kang?”

“Karena sampean mengandaikan, saya juga berandai-andai. Coba andaikata, andaikata lho ini, jadi boleh dibalekne. Andaikata masyarakat nggak ramai nunjuk-nunjuk ke sana, apa yang mungkin mereka mau mengaku? Lagi pula kalau kesatria, kenapa caranya seperti itu? Kesatria kok mateni orang yang sudah ditangkap aparat,” kata Dhe Nawir.

“Weeh, sing dipateni preman lho kang,” Rio memancing Dhe Nawir yang sudah mulai umub.

“Aku dudu wong pinter yang punya teori-teori. Sederhana wae lah. Kanggoku, kesatria itu bukan hanya sekadar mengakui kesalahan. Apalagi pengakuan yang dikatakan jujur itu dilakukan setelah dikuya-kuya ngalor ngidul.  Preman ya preman, tapi kan preman sudah ditangkap polisi dikurung di penjara yang juga miliknya negara. Kok malah diserang. Apa bukan berarti nyerang negara juga. Sudah begitu habis menyerang terus kabur to,” kata Kang Rio.

“Menurutku lebih kesatria sampean-sampean iku, ming aba teh tawar merga kuate mbayar yo teh tawar. Ora aba mie rebus telor tapi ujung-ujungnya ngebon kemudian nggak berani jajan ke sini lagi,” kata Dhe Nawir yang omongannya tanpa lagi bisa disela.

Rio, Bagas dan Dino blangkemen. Analogi Dhe Nawir menusuk hati. Kesatria berikut dengan kejujuran memang tidak bisa dimanipulasi. Sikap kesatria bukan citra yang bisa diperoleh hanya dengan memasang spanduk. (***)

 

This entry was posted in asal2an. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Statistical data collected by Statpress SEOlution (blogcraft).