Pengalaman Membayar Pajak Kendaraan Bermotor

Kamis (28/01/2016) yang lalu saya dibuat kaget dengan pelayanan super duper cepat kantor Samsat Surakarta. Seingat saya dari pengalaman membayar pajak kendaraan bermotor, baik roda empat maupun dua roda dua, baik milik saya pribadi, milik orang yang masih atas nama saya maupun milik orang lain, baru kali ini pengurusannya tidak lebih dari 10 menit sejak saya datang.

Karena yang antri sedikit lantaran masih pagi? Bisa jadi. Tetapi rasanya itu bukan satu-satunya alasan cepatnya pelayanan. Saya datang di kantor Samsat sekitar pukul 8.30 WIB, dulu saya pernah datang ke kantor Samsat lebih pagi lagi tetapi urusan setor duit ke negara tak secepat sekarang. Menurut saya sih, kecepatan pembayaran pajak kendaraan bermotor (kali ini lebih dikarenakan loket yang harus dilalui sangat sedikit.

Sekarang pembayaran pajak kendaraan bermotor, hanya perlu melewati 3 loket; loket pendaftaran, loket pembayaran dan loket pengambilan STNK. Sedangkan loket cek fisik kendaraan (esek-esek nomor rangka dan mesin) yang biasanya kita harus membayar Rp 15 ribu tidak diperlukan lagi. Dulu memang juga tidak perlu esek-esek kalau hanya perpanjangan (bukan ganti plat nomor), tetapi tetap harus menyerahkan STNK asli dan fotokopi di loket ini.

20160127-bpkb-i3nz0snd.blogpsot (2)

STNK-BPKB (ilustrasi, foto koleksi k3nz0snd.blogspot.com)

Tak hanya meniadakan loket esek-esek, pembayaran pajak motor untuk perpanjangan STNK juga tak perlu ke loket pengambilan formulir. Bahkan calon pembayar pajak juga tidak perlu harus mem-fotokopi apapun saat akan bayar pajak. Yang bikin saya lumayan kaget, BPKB asli pun tak perlu dibawa. Di loket pendaftaran, cukup serahkan STNK dan KTP Asli. Petugas akan mengambil dua syarat untuk bayar pajak ini, dan kita menunggu di kursi antrian.

Petugas akan memberi nomor pendaftaran. Saat itu saya mendapat nomor antrian 44. Nomor antrian ini adalah nomor urut mendapat giliran untuk menyerahkan uang ke kasir. Saya lihat di layar monitor nomor yang dilayani baru nomor 22. Saya pikir cukup lama sampai giliran saya dan saya memutuskan untuk ke luar ruangan. Udud-udud dulu.. Saya pilih rokok kretek 234, karena saya perkirakan masih cukup waktu untuk menikmatinya hingga giliran saya.

Namun ketika saya masuk kembali ke ruangan –ududte wis dicecek-, monitor yang menampilkan antrian sudah menunjukkan angka 46. Artinya nomor saya sudah lewat. Gile, cepet bener begitu saya membatin. Saya pun mendatangi loket dan menanyakan apakah nomor saya masih bisa dilayani karena sudah terlompati. Petugas tak menjawab tetapi mengambil berkas dan menyebutkan nama pemilik kendaraan. Setelah saya iyakan, dia menyebut nominal pajak yang musti dibayar.

21 lembar uang merah bergambar proklamator berpindah tangan. Setelah menghitung dan memberi kembalian, si petugas memberi tahu agar saya pindah ke loket paling ujung. “Tunggu di sana, nanti STNK diambil di sana,” kata dia.

Kembali saya berpikir, akan cukup waktu untuk sekadar udud-udud di luar. Saya memutuskan untuk ke luar melalui pintu yang dekat dengan loket paling ujung. Namun belum sempat membuka pintu, nama saya dipanggil. Saya kira, ada kesalahan atau apa sehingga saya diminta datang ke loket. Tetapi ternyata, di loket, seorang petugas sudah membawa STNK di letakkan di atas meja bersama dengan plastik pembungkusnya. Dia hanya bilang, “Imron Rosyid Taufikur Rohman??, seribu.” Oalah seribu yang dimaksud adalah seribu rupiah untuk membayar plastik tempat STNK.

Cepatnya pembayaran pajak kendaraan bermotor –sekali lagi untuk perpanjangan STNK- tak pelak membuat saya bertanya-tanya. Tadi pagi, saat saya ngopi bikinan isteri, terjawab sudah pertanyaan ini. Tetangga yang polisi dan bertugas di Samsat yang memberikan jawaban.

Kata polisi itu, “sejak 25 Januari, atas intruksi Pak Gub (Gubernur Ganjar).”. Menurut dia, ganjar yang bersohib dengan karib saya blontakpoer itu saat ini tengah pening kepala. Penyebabnya, pendapatan dari PKB (pajak kendaraan bermotor) di Kota Solo turun drastis. Dia menyebut penurunan pemasukan hingga Rp 4 miliar per bulan. Ganjar rupanya ingin memberi kemudahan pembayaran pajak kendaraan bermotor agar pendapatan kembali balik seperti sedia kala.

“Sebenarnya ada sisi yang ditabrak dari intruksi Pak Gub ini. Tapi ya bagaimana lagi, dawuhnya begitu,” kata si petugas samsat. Dia menyebut salah satu aturan yang ditabrak adalah soal tidak perlunya menyertakan BPKB dalam pembayaran pajak tersebut. Menurut dia, dengan tidak lagi membawa BPKB, kendaraan yang curian pun sekarang bisa bayar pajak. Tetapi juga kabar gembira bagi yang punya hobi “menyekolahkan” BPKB sekarang tak perlu repot-repot menebus BPKB-nya dulu untuk pajak

“Belum tahu apakah ada pengaruh kenaikan pemasukan dengan cara ini. Tetapi yang jelas, masih sepi. Kalah ramai dengan Samsat keliling yang sehari melani 400an orang sedangkan di kantor hanya 200an. Tetapi yang jelas, nilai pajak kendaraan bermotor di Jawa Tengah memang naik gila-gilaan. Ada yang sampai 200 persen seperti hardtop,” kata teman saya itu. (****)

This entry was posted in kebijakan publik, pengalaman and tagged , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Statistical data collected by Statpress SEOlution (blogcraft).